Oleh: Administrator | Maret 17, 2014

Instrumen PKG

Bagi yang ingi mendownload Instrumen Penilaian Kinerja Guru (PKG) silahkan link di bawah ini :
INSTRUMEN PKG

Oleh: Administrator | Agustus 9, 2012

Uji Kompetensi Guru

Pelaksanaan Uji Kompetensi guru (UKG) di Kabupaten Hulu Sungai Selatan berjalan dengan lancar dan terkendali. Meskipun dalam pelaksanaannya ada beberapa mata pelajaran yang ditunda pelaksanaannya oleh Kementerian Pendidikan, namun pelaksaan semuannya berjalan dengan tertib.
Untuk nilai hasil UKG akan dikirimkan langsung oleh LPMP kepada yang bersangkutan dalam bentuk surat.

Oleh: Administrator | Juni 26, 2012

Inpassing Guru Non PNS 2010

Beberapa waktu yang lalu, kami berangkat ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kebetulan mampir ke Gedung E Kemendikbud di Jakarta. Akhirnya kami menanyakan langsung mengenai masalah inpassing guru non pns.

Menurut keterangan petugas disana, berkas yang masuk telah diverifikasi dan diproses. Jika memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan, maka akan dikeluarkan SK Inpassingnya.

Lalu kami menanyakan mengenai Provinsi Kalsel dan Kab. HSS. Ternyata di Provinsi kalsel hanya sebagian guru dari sebagian kabupaten saja yang dinyatakan lolos seleksi. Nama-nama mereka dapat dilihat di web : http://p2tkdikdas.kemdiknas.go.id

bagi mereka yang namanya tidak tertulis disana, berarti tidak berhasil lolos seleksi. namun petugas disana tidak merinci apa saja penyebab tidak lolosnya. namun yang jelas, sesuai ketentuan yang telah ditetapkan waktu edaran mengenai inpassing disampaikan. Untuk persyaratannya dapat dilihat di file berikut : dokumen_persyaratan_inpassing

Demikian kami sampaikan agar anda semua maklum adanya.

Oleh: Administrator | Februari 15, 2012

Jajanan

Pernahkah mencoba kue dengan bahan dasar Ubi Nagara? Ternyata banyak jenis kue yang bisa dihasilkan. Berikut diantaranya.

 

 

 

Oleh: Administrator | Februari 15, 2012

HUT Kandangan

Stand Disdik

 

 

Oleh: Administrator | Februari 7, 2012

Klarifikasi

Sehubungan dengan beberapa pertanyaan yang masuk kepada kami melalui blog ini mengenai guru honorer tahun 2005 ke atas, dengan ini kami sampaikan bahwa belum ada kejelasan dari Pemerintah Pusat. Namun dapat kami sampaikan bahwa Sejak tahun 2006 sudah dikeluarkan peraturan pemerintah pusat yang isinya tidak menerima honorer setelah tahun 2005. Namun di lapangan masih ditemukan adanya Kepala Sekolah yang masih menerima tenaga honorer. Demikian kami sampaikan, terima kasih.

Ttd

 

Sekretaris Dinas

 

Oleh: Administrator | September 21, 2011

Tulang busuk penegak keadilan

Tulang busuk penegak keadilan

SEJAK dilantik menjadi gubernur Mesir oleh Khalifah Umar al-Khattab, Amru al-Ash
tinggal di sebuah istana yang berhadapan dengan sebidang tanah kosong dan di atas tanah
itu, ada sebuah pondok kecil.

Sebagai gubernur, beliau berhasrat untuk mendirikan sebuah masjid yang indah dan
mewah di atas tanah kosong itu supaya seimbang dengan kewujudan istananya, namun
impian itu terhalang karena tanah serta pondok tersebut dimiliki oleh seorang Yahudi.
Justru, keberadaannya dianggap tidak berapa sedap dilihat karena terletak berhadapan
dengan sebuah istana penguasa. Pada suatu hari, pemilik tanah dan pondok tersebut
dipanggil menghadap gubernurAmru Al-Ash di istana untuk membincangkan rencana
dan keinginannya itu.

Setelah berhadapan dengan Yahudi itu, Amru berkata: “Wahai Yahudi, berapakah harga tanah
bersama dengan pondok kamu itu? Aku mau membangun masjid di atasnya.”
Akan tetapi Yahudi itu menggelengkan kepala sambil berkata: “Tidak akan saya
jualkan kedua-duanya, tuan.”
Sesudah itu, Amru berkata: “Aku akan membayarnya tiga kali ganda daripada harga
biasa!”

Tawaran gubernur sungguh lumayan namun Yahudi itu tetap enggan menjualnya.
Amru tetap menawarkan supaya ia mau menjual dan mengingatkannya mengenai
kemungkinan beliau akan menyesal jika tidak mau. Namun begitu, walaupun
telah berkali-kali gubernur membuat tawaran, Yahudi itu tetap menegaskan bahwa dia
tidak mau menjualnya dan tidak sekalipun akan menyesal.

Setelah orang Yahudi itu meninggalkan istananya, Amru membuat satu keputusan
untuk membongkar tempat tinggal kepunyaan Yahudi itu dan mendirikan sebuah masjid
besar di atas tanah tersebut dengan alasan demi kepentingan bersama serta
mengindahkan pemandangan.

Yahudi itu tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi tindakan sang penguasa. Namun, dia
tidak putus asa memperjuangkan haknya dan bertekad hendak mengadu perbuatan
gubernur Amru kepada ketua pemerintahnya yang berada di Madinah, yaitu Khalifah
Umar bin Khatab.

Sesungguhnya dia tidak menyangka bahawa khalifah yang namanya sangat masyhur itu
ternyata tidak mempunyai istana. Setelah sampai, Yahudi itu disambut
oleh khalifah di halaman Masjid Nabawi, tepat di bawah sebatang pokok kurma yang
rindang.

“Ada keperluan apa tuan datang jauh dari Mesir?” tanya Khalifah Umar sesudah ia
menyambut kedatangan Yahudi itu dari selesai sholat.

Walaupun agak gementar karena berdiri di depan khalifah, Yahudi itu akhirnya berhasil
menenangkan hatinya karena ketua negara Islam yang bertubuh tegap itu menatapnya
dengan pandangan yang sejuk hingga lancar lidahnya dapat menceritakan masalah dan
keperluannya.

Yahudi itu memberitahu bahwa beliau bekerja keras seumur hidup akhirnya hingga dapat
membeli sebidang tanah dan pondok kecil di sebuah kawasan tepat berhadapan dengan istana
gubernur. Akan tetapi, tanah itu dirampas oleh gubernur Amru dan dibangunkan sebuah
masjid yang indah dan besar.

Umar mendadak merah padam mukanya. Dengan murka dia berkata: “Kurang ajar si Amru. Perbuatannya sudah keterlaluan.”

Sesudah agak reda nafsu amarahnya, Umar lantas menyuruh Yahudi itu supaya mengambil sebatang tulang dari tempat sampah yang terletak didekatnya. Yahudi itu ragu-ragu menurutkan perintah tersebut. Setelah perintah itu diulang dua kali, maka Yahudi itu dengan kebingungan mengambil sebatang tulang belikat unta dan diserahkannya kepada Khalifah Umar.

Kemudian, Umar menoreh tulang belikat unta itu dengan huruf alif yang lurus dari atas ke bawah lalu dipalang pada tengah-tengahnya menggunakan hujung pedang. Tulang itu diserahkannya kepada Yahudi tersebut seraya berpesan: “Tuan, bawalah tulang ini baik-baik ke Mesir, dan berikan kepada gubernur aku, Amru bin Ash.”

Yahudi itu keheranan karena beliau datang dari jauh iaitu dari Mesir ke Madinah untuk memohon keadilan kepada khalifah tetapi dia hanya menerima sebatang tulang yang berbau busuk, yang cuma digores dengan hujung pedang.

“Maaf, tuan khalifah,” ucap beliau tidak puas.
“Saya datang ke mari menuntut keadilan. Namun, bukan keadilan yang tuan berikan melainkan sepotong tulang yang tidak berharga. Bukankah ini suatu penghinaan atas diri saya?”

Umar tidak marah sebaliknya menegaskan pendiriannya dengan berkata: “Wahai Yahudi. Pada tulang busuk itulah terletak keadilan yang tuan inginkan.”

Walaupun sambil mendongkol dan mengomel di sepanjang jalan, orang Yahudi itu tetap berangkat meninggalkan Madinah menuju ke negeri tempat tinggalnya dengan hanya membawa hasil sepotong tulang belikat unta yang berbau busuk.

Anehnya, tulang yang kelihatan tidak ada nilai itu diterima oleh gubernur Amru dan tanpa diduga oleh Yahudi, tubuh Amru tiba-tiba menggigil dan wajahnya pucat ketakutan. Seketika itu, dia memerintahkan anak buahnya supaya merobohkan masjid yang baru saja siap ditempati dan mendirikan kembali pondok kecil kepunyaan Yahudi itu, serta menyerahkan hak atas tanah tersebut secara utuh seperti semula.

Anak buah Amru sudah berkumpul semuanya. Masjid yang memakan belanja besar itu akan dihancurkan. Namun, tiba-tiba Yahudi itu mendatangi gubernurAmru dengan terburu-buru.

“Ada perlu apa lagi, tuan?” tanya Amru dengan nada yang halus dan hormat.

Dalam keadaan yang masih termengah-mengah itu, Yahudi tersebut berkata: “Maaf, tuan jangan dibongkar dulu masjid itu. Izinkan saya menanyakan satu perkara paling pelik yang mengusik perasaan saya.”

“Perkara yang mana?” tanya gubernur tidak mengerti.

“Apa sebabnya tuan begitu ketakutan dan menyuruh supaya merobohkan kembali masjid itu hanya karena tuan menerima sepotong tulang dari Khalifah Umar?”

Gubernur Amru berkata: “Wahai, Yahudi. Ketahuilah kamu bahwa tulang itu adalah tulang biasa, malah baunya busuk tetapi oleh karena ia dikirimkan oleh khalifah, tulang itu menjadi peringatan yang amat tajam dan tegas dengan dituliskan beliau satu huruf alif yang dipalang tengah-tengahnya.”

“Maksudnya?” tanya Yahudi semakin keheranan.

“Tulang itu berisi ancaman Khalifah yang maksudnya: “Amru bin Ash. Ingatlah kamu, siapa pun engkau sekarang, betapa tinggi pun pangkat dan kekuasaan kamu, suatu saat nanti kamu pasti berubah menjadi tulang yang busuk. Justru, bertindak adil lah kamu seperti huruf alif yang lurus, adil di atas dan adil di bawah. Sebab, jika engkau tidak
bertindak lurus, aku palang di tengah-tengah kamu, aku tebas batang leher kamu.”

Yahudi itu tunduk terharu. Dia kagum atas sikap khalifah yang tegas dan sikap gubernur yang patuh kepada pihak atasannya hanya dengan menerima sepotong tulang. Ia adalah bukti yang mulia karena benda yang rendah berubah menjadi keputusan hukum yang keramat dan ditaati di tangan penguasa yang beriman.

Maka Yahudi itu kemudian menyerahkan tanah dan pondoknya sebagai wakaf. Setelah kejadian itu, dia menyatakan memeluk Islam.

credit to uploader : nn

 

 

 

 

 

 

 

Oleh: Administrator | September 12, 2011

Warisan Budaya

KUNTAU BANJAR PERLU DILESTARIKAN

Saat ini, kesenian kuntau banjar sudah mulai dilupakan. Bagi masyarakat modern, kesenian kuntau kalah menarik dibandingkan dengan hiburan yang mereka anggap lebih modern. Misalnya karaoke dangdut ataupun organ tunggal plus penyanyi. Lihat saja sekarang setiap acara walimah perkawinan, pasti yang ditampilkan adalah dangdutan.

Padahal budaya banjar sendiri tidak kalah menariknya. Contohnya saja kegiatan festival kuntau banjar, penontonnya tidak kalah banyak dengan dangdutan. Meskipun tidak menimbulkan perkelahian akibat insiden senggol waktu berjoget seperti dangdutan. :)

Mudah-mudahan kesenian dan hiburan ini tetap terjaga dan dilestarikan hingga anak cucu kita.

Oleh: Administrator | September 5, 2011

Selamat Idul Fitri

Selamat Idul Fitri

Kami mewakili seluruh karyawan-karyawati Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Selatan Mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf  Lahir dan Batin Atas segala kesalahan dan kekhilafan kami baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Semoga puasa dan amal ibadah kita lainnya mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Amin…

 

brotherM4

Administrator

 

 

Oleh: Administrator | Agustus 16, 2011

RENUNGAN

Makhluk berseragam dengan usia belasan sudah akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Dari hari Senin sampe Sabtu, setiap pagi biasanya mereka mangkal di pinggiran jalan atau di halte-halte bis. Tapi jangan su’udzon dulu ya. Mereka bukan lagi nunggu pelanggan lho (emangnya mbok jamu?). Tapi nunggu jemputan ‘satu untuk semua’ alias angkutan umum. Itu juga kalo sopir ikhlas dengan tingkah polah mereka yang naeknya rame-rame, turunnya rame-rame, bayar ongkosnya juga rame-rame alias patungan. Harusnya bayar untuk sepuluh orang, cuma dibayar lima. Alasannya, yang lima cuma ikut-ikutan. Asal deh!

Kini, kehadiran mereka nggak cuma meramaikan angkot, tapi sudah merambah dunia layar kaca. Membanjiri sinetron remaja yang ngerasa belum afdhol kalo nggak nyisipin status pelajar bagi para pemerannya. Biar akrab ama keseharian pemirsanya yang dominan remaja. Lihat saja, untuk komunitas seragam putih-abu abu kita mengenal Cinta, Karmen, Maura, Alia, dan Milly yang bersekolah di SMA ‘Ada Apa Dengan Cinta?’. Nggak jauh dari situ ada SMA ‘Kawin Gantung’ yang dihuni Ridho, Memey dan konco-konconya. Ada juga SMA ‘ABG’ atau SMA ‘Cinta SMU’ yang juga ikut ambil bagian.

Komunitas seragam putih-biru juga nggak mau ketinggalan. Meski sering dibilang masih bau kencur, mereka berani bilang kalo SMP juga punya daya pikat. Ada Bom kuadrat (baca: Bom-Bom) dan Lala yang tengah mengenyam pendidikan di SMP ‘Bidadari’. Atau Nadya, Alex, Sofi, dan Jason dari SMP ‘Inikah Rasanya’.

Malah, adek-adek kita yang berseragam putih-merah pengen ikutan nimbrung juga. Seperti hebohnya aksi “Jenderal Kancil” dengan “Putri Malu”. Atau kisah lugu “Bulan dan Bintang”. Bener-bener komplit. Tapi seperti apa sih keseharian temen-temen pelajar kita itu?

 Rusaknya citra pelajar, guru, dan sekolah

 Secara umum, perilaku temen-temen kita di atas emang nggak beda ama kita selaku pelajar. Berangkat sekolah pake seragam, ikut kegiatan belajar di kelas, ngemil di kantin pas istirahat, dan kudu taat aturan sekolah. Bedanya, kita hidup di dunia nyata sementara mereka menjalani status pelajarnya di dunia layar kaca yang seolah nyata. Kita dituntut manut ama kurikulum pendidikan keluaran Diknas sementara mereka kudu ngikut skenario bimbingan sutradara. Sayangnya, justru perbedaan ini yang menimbulkan kesan pelecehan terhadap sekolah, guru, atau perilaku kaum terpelajar yang dipertontonkan para pemainnya.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dijadikan ajang pamer aurat, kekayaan, dan harga diri. Cara berpakaian siswi SMA, terutama pemeran utamanya, sangat mengumbar syahwat. Kemeja lengan pendek yang dikeluarin, transparan dan ketat hingga kancing bagian dadanya terlihat mau copot eh copot..copot. Rok yang dikenakannya pun mirip pemain tenis lapang. Mini dan jauh di atas lutut. Adakah sekolah yang melegalisasi seragam ‘fasthabiqul aurat’ (berlomba-lomba memamerkan aurat) kayak gini?

Eskploitasi gaya hidup mewah bin glamour yang menjual mimpi juga terasa kental di dunia dalam syuting ini. Aksesoris yang menunjang penampilan seperti ponsel terbaru, arloji, busana, sepatu, hingga kendaraan berseliweran di sekolah. Semuanya high class punya. Para pemain berlomba memamerkan kekayaannya. Nggak ada lagi rebutan angkot. Yang ada rebutan tempat parkir. Nggak ada kegiatan KBM. Yang keliatan nggak jauh dari acara makan fast food , shopping, atau ngeceng di mal.

 

Keberadaan guru sebagai pendidik hanya untuk meramaikan saja. Seperti yang diperankan pelawak Komar di SMU ‘Kawin Gantung’. Tidak ada lagi rasa hormat yang seharusnya ditunjukkan murid pada gurunya. Profesi guru kehilangan kewibawaan di hadapan murid. Yang lebih parah dijadikan bahan tertawaan. Citra pahlawan tanpa tanda jasa disulap jadi pecundang tanpa wibawa.

Perilaku pelajar yang diperankan juga cenderung permissif dan bebas dari aturan sekolah. Siswanya berani memamerkan tatto, rambutnya dicat dengan warna mencolok kayak traffic light , memakai anting, slayer, topi koboi, gelang, atau berperilaku layaknya preman. Kancing baju bagian atas di buka dan kemeja lengan pendeknya digulung. Kata-kata kasar dengan nada celaan, cacian, makian mereka lontarkan sebagai bentuk kebencian, iri hati, dan kedengkian kepada lawan mainnya. Pergaulan bebas di antara mereka menjadi menu utama. Segala hal yang berbau cinta menyita perhatian, waktu, tenaga, dan juga materi para pemerannya sepanjang cerita. Seolah, urusan cinta adalah hidup-mati mereka. Sehingga dianggap wajar jika harus menelantarkan kepentingan sekolah. Waduh, itu namanya sebuah ancaman serius nih.

Sobat muda muslim, tega bener ya orang-orang yang nyomot status pelajar dan keberadaan sekolah dalam filmnya sekadar untuk menghilangkan dahaga mereka yang haus materi. Padahal mereka juga bisa kayak gitu karena jasa-jasa guru dan pihak sekolah. Ya…beginilah hidup di alam kapitalis. Norma, etika, ataupun hukum agama tidak lebih berharga dari setumpuk harta. Ciloko tenan!

 Sinetron remaja, miskin kreativitas

 Sobat, kekhawatiran masyarakat akan pengaruh negatif dari sinetron remaja udah sering dilontarkan. Baik melalui media massa cetak maupun media elektronik. Salah satunya, surat pembaca yang dimuat Republika pada hari Rabu, 18/08/2004 dari seorang siswi SLTP IT Al-Hikmah bernama Hana. Menurut Hana, sinetron-sinetron itu memberi pengaruh besar terhadap merosotnya moral dan akidah pelajar Indonesia. ( Eramuslim, 26/08/04 ). Sayangnya, pihak produser pura-pura nggak denger dan nggak tahu. Cuek bebek. Buktinya, sudah enam bulan berlalu dari surat Hana, produk sinetron remaja malah makin amburadul dan kian gawat. Nggak ngaruh bow!

Repotnya lagi, sekarang televisi sudah menjadi anggota keluarga. Itu berarti, nggak ada keluarga yang lolos dari informasi yang disampaikan lewat kotak ajaib ini. Padahal seorang pakar dan peneliti pertelevisian, Dwyer, menyimpulkan, sebagai media audio visual, TV mampu merebut 94 % saluran masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga.TV mampu untuk membuat orang pada umumnya mengingat 50 % dari apa yang mereka lihat dan dengar di layar TV walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan ingat 85 % dari apa yang mereka lihat di TV setelah tiga jam kemudian dan 65 % setelah tiga hari kemudian (Dwyer, 1988). Gaswat banget kan kalo acara televisi didominasi unsur hiburan yang minim unsur pendidikan?

Kalo kita amati, setidaknya ada tiga aspek dalam sinetron-sinetron yang punya potensi mengkikis keislaman kita. Antara lain aspek kekerasan, aspek moralitas, aspek seksualitas.

“Aspek moralitas misalnya, yang menyangkut nilai-nilai baik, buruk, benar, salah. Aspek ini memang tidak kelihatan seperti aspek kekerasan, tapi menjadi aspek yang penting. Perilaku tertentu yang di masyarakat dianggap salah, di sinetron ditampilkan begitu saja tanpa ada penekanan bahwa perilaku itu salah. Banyak sekali sinetron yang seperti itu,” ungkap Guntarto, Kepala Kajian Anak dan Media, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI). ( idem )

Aspek seksualitas terlihat dari cara berbusana pemain yang menonjolkan daya tarik seksualnya hingga ekspresi cinta di antara mereka yang cenderung vulgar. Dari sekadar bergandengan tangan, berciuman, hingga berpelukan mesra layaknya suami-istri.

Sementara aspek kekerasan menjadi bumbu penyedap yang menajamkan konflik. Pemainnya diarahkan untuk menyelesaikan masalah dengan melibatkan jotosan kepalan tangan, urat leher yang menegang, dan jebakan-jebakan yang bisa merenggut nyawa.

Dr. Arif Sadiman M.Sc dalam tulisannya yang berjudul “ Pengaruh televisi pada perubahan perilaku ” (jurnal teknodik No. 7/IV/Teknodik/Oktober 1999) mengutip Laporan UNESCO, 1994 yang menyatakan bahwa pada tahun 1994 koran-koran di Singapura menyajikan hasil polling pendapat yang dilakukan pihak kepolisian kepada 50 pemuda yang terlibat tindak kekerasan. Hasil polling tersebut menyimpulkan bahwa kebanyakan dari mereka yang melakukan tindak kekerasan suka menikmati film-film kekerasan di TV.

Orientasi materi-lah yang membuat produksi sinetron di negeri kita miskin kreativitas. Selalu berkutat pada harta, tahta, wanita, dan cinta. Yang pada akhirnya masa depan remaja pun dikorbankan. Teganya… teganya… teganya…. (jadi inget Meggy Z!)

 Menggagas sinetron remaja berkualitas

Sobat, kamu pernah tahu sinetron remaja bertajuk ‘ACI’ atau ‘Jendela Rumah Kita’ yang dulu sempet populer? Masih ingat dengan kisah persahabatan Ading dan Dado? Atau pernah nonton ‘Keluarga Cemara’?

Sepertinya sinetron-sinetron di atas bisa mewakili tayangan yang pas buat remaja. Jalan ceritanya minim dari aspek bermasalah yang kita bahas sebelumnya. Menyajikan kesederhanaan, persahabatan, kehidupan di sekolah, belajar mandiri dan berusaha tidak membebani orang tua. Faktor edukasi lebih dominan dibanding eksploitasi modernitas yang menjebak remaja menjadi plagiator budaya sekuler Barat. Mungkinkah terjadi regenerasi film-film di atas saat ini?

Kenapa nggak? Kita yakin para pekerja seni itu mampu mewujudkannya. Langkah awal yang diperlukan adalah keikhlasan mereka untuk menyebarkan kebaikan. Dengan keikhlasan itu, mereka pasti mampu mempertahankan idealisme di tengah godaan materi yang mengkebiri kreativitasnya. Mengangkat kehidupan remaja yang kental dengan proses pendidikan formal di sekolah seperti mengemas fenomena Kurikulum Berbasis Kompetensi yang lagi popuer atau cerita ringan tentang remaja yang menjalani setiap proses yang harus dilaluinya sebelum menemukan perubahan. Semuanya tanpa harus kehilangan unsur hiburan.

Dengan begini, kita semua berharap pelajar mampu meraih predikat seperti yang dijanjikan Allah swt. Baik di dunia nyata atau dalam layar kaca.

…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS al-Mujâdilah [58]: 11)

Sobat, pada akhirnya, kita semua tentu harus menyadari bahwa predikat yang Allah janjikan di atas akan sulit kita raih jika mengandalkan tayangan berkualitas saja. Selain jarang, tayangan itu juga kudu bersaing dengan tayangan sejenis yang tidak bermutu bagi pemirsa, tapi berduit bagi pengelola tv swasta, dan kebal dari pengawasan Komisi Penyiaran Indonesia. Belum lagi kian hari gaya hidup pelajar yang bebas aturan seperti dalam sinetron kian banyak dipraktikkan oleh temen-temen kita. Sehingga semakin besar peluang kita terpengaruh oleh budaya barat jika tidak ditopang dengan keistiqomahan kita. Dan untuk itu, sangat wajar rasanya jika hadir di tempat-tempat pengajian atau sekadar diskusi untuk mengenal Islam lebih dalam menjadi langkah awal untuk meraih predikat kaum terpelajar yang ditinggikan derajatnya oleh Allah Swt. So , tunggu apa lagi? [hafidz]

 

 

 

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.